Studi Ekologi Methodist 2: Alam, Teman Belajar yang Menyenangkan

Oleh: Richard Yanato

Belajar dari alam merupakan salah satu cara menggali ilmu yang efektif dan menyenangkan. Selain belajar, kita juga dapat menjadikannya sebagai ajang rekreasi sambil menikmati pemadangan alam di tempat tujuan nantinya. Pasalnya, di tengah padatnya aktivitas di perkotaan sekarang ini, suasana alami di alam bebas dapat menjadikan pikiran tenang dan aman.

KEHIDUPAN di pedesaan boleh dikatakan sebagai salah satu objek yang tepat untuk dijadikan tempa melakukan studi ekologi atau studi tentang alam dan kehidupan di sekitarnya bagi anak-anak perkotaan. Mereka jadi tidak hanya mengenal teman-teman dan lingkungan di kota saja, tetapi juga bisa mengetahui bagaimana situasi di desa serta beradaptasi dengan kondisi desa.

Hal inilah yang dilakukan oleh 48 orang siswa SMA Perguruan Methodist 2 Medan pada 10-12 Agustus 2007 lalu. Dengan didampingi seorang pembina sekaligus guru BP Methodist-2, Petrus SPd, mereka berangkat ke Lembah Sibayak. Tujuannya adalah dua desa di sana yaitu Desa Doulu dan Desa Semangat Gunung.

Mereka tiba sekitar pukul 18.00 WIB, Koordinator Program SoI OK Zulkarnain, langsung memberikan pengarahan tentang apa saja yang harus mereka lakukan selama berada di sana. "Kalian di sini akan memiliki ayah dan ibu angkat. Nantinya kalian akan tidur, makan, memulai hingga mengakhiri aktivitas sehari-hari kalian di sana," katanya.

Karena terdapat dua desa, mereka dibagi menjadi 2 kelompok besar, yaitu sebanyak 20 orang di Desa Doulu dan 28 orang lainnya di Desa Semangat Gunung. Kelompok besar ini selanjutnya dibagi lagi menjadi lima orang untuk menginap di 10 rumah penduduk yang telah disediakan.

Seharian penuh di hari kedua, didampingi beberapa orang penduduk desa, mereka diajak berkeliling desa mengenal apa saja kekayaan alam yang ada di sana. Pertama mereka diajak mengelilingi kebun pertanian yang ditumbuhi dengan berbagai sayuran di antaranya sayur kol, sayur paret, daun sop, cabai, serta tomat. Di sana dijelaskan berapa lama masa pertumbuhan hingga masa pertumbuhan hingga masa panen sayur-sayuran tersebut serta di lokasi bagaimana yang cocok ditanami tanaman seperti itu.

Selainitu, mereka juga diajak naik ke gunung untuk melihat tanaman serta kehidupan orang-orang desa yang sebagian juga mencari nafkah di gunung tersebut. Di pertengahan jalan mereka menjumpai seorang kakek yang berprofesi sebagai pemotong pohon bambu untuk alat kerajinan. Langsung saja seorang siswa meyapanya dan bertanya, "Kek, dalam sehari bisa mendapat berapa ikat batang pohon?" tanyanya.

Kakek yang telah menjalankan profesi sebagai pemotong bambu selama 7 tahun ini menjelaskan bahwa dalam sehari biasanya dirinya mampu mendapatkan 15 keranjang bambu untuk selanjutnya dijadikan sebagai bahan untuk membuat keranjang buah serta alat-alat kerajinan lainnya untk dijual kepada para turis ataupun masyarakat sekitar yang membutuhkannya.

Lokasi Pembantaian dan Bambu Kuning

Banyak tempat unik dan menarik yang membuka mata siswa. Salah satunya adalah lokasi pembantaian. Disebut sebagai lokasi pembantaian karena lokasi tersebut kerap dimanfaatkan sebagai tempat bagi para pemburu dan masyarakat desa untuk memburu burung Jalak yang akan tiba pada bulan Oktober hingga Desember, setiap tahunnya.

"Burung ini merupakan burung musiman yang biasanya hidup di pesisir pantai. Jadi jika sudah tiba bulan Oktober hingga Desember, mereka akan datang kemari untuk mencari makan," cerita OK.

Salah satu tempat yang tidak kalah menariknya adalah tempat tumbuhnya pohon bambu kuning ini berbeda dengan pohon bambu hijau karena pohon ini tergolong cukup langka di Indonesia. Hal tersebut dapat dilihat dari lokasi tumbuhnya yang tidak di sembarang tempat. Pohon ini hanya dapat tumbuh di ketinggian 1.500 - 1.800 meter di atas permukaan laut.

Biasanya, pohon ini hanya dapat dijumpai di negeri Tiongkok atau yang lebih sering disebut sebagai negeri tirai bambu. Karena kelangkaannya, masyarakat sekitar sangat melindungi pohon bambu kuning ini. Tidak sembarang orang boleh menebang atau mengambil batang pohon bambu ini. "Pohon ini juga kerap digunakan sebagai alat untuk obat penangkal roh halus," ujar OK.

Di hari terakhir, masing-masing tim diminta pendapat serta sarannya untuk mengembangkan Lembah Sibayak ke depannya. Di sana pun masing-masing bercerita tentang apa yang mereka harapkan untuk perbaikan demi perbaikan menuju perubahan ke arah yang lebih baik.

Frans, salah seorang peserta berharap agar pemungutan liar yang dilakukan di jalur masuk ke Lembah Sibayak yang dilakukan oknum tertentu dapat dihilangkan. Karena dianggap pengutipan tersebut dapat membuat warga enggan berekreasi ke sana. "Apalagi dampaknya sama sekali tidak ada diberikan kepada warga sekitar. Uang tersebut hanya digunakan oknum yang mengutipnya," katanya.

Peserta lainnya, Endang, berharap pemerintah setempat dapat memperbaiki jalan masuk dari jalan raya hingga ke desa tersebut yang kondisinya sudah tergolong parah. Jika terjadi hujan, sesuai pengakuan warga, para pengunjung terkadang terperosok dan dapat jatuh akibat lubang tersebut tertutup air.

Kejadian tersebut tentunya dapat berdampak besar bagi kemajuan perekonomian warga karena otomatis dapat mengurangi jumlah pengunjung. Padahal, cukup banyak potensi yang dapat meningkatkan perekonomian warga desa.


Petrus, guru yang mendampingi siswa tersebut berpendapat lain. Dia melihat kondisi sekolah di dua desa ini mengalami keterpurukan. Menurutnya, hal penting dan terutama yang harus diperbaiki terlebih dahulu adalah membantu pendidikan anak-anak. "Kita menemukan anak kelas 1 SD yang masih belum bisa membaca sama sekali. Padahal, jika di kota anak seusia itu sudah mulai belajar menghafal," katanya.

Menurutnya, ada baiknya jika program ini dapat dilanjutkan terus dan tidak hanya berhenti di sini saja. Ke depannya dia berharap anak-anak dapat dikerahkan untuk membantu pengajaran kepada anak-anak sesuai dengan keahlian mereka masing-masing. Misalnya saja mengajari bernyanyi, membuat prakarja, membaca hingga kegiatan-kegiatan berguna lainnya.

Dia mengatakan hal ini tidak dapat dijalankan dengan paksaan. Dia berharap siswa yang merasa terpanggil untuk membantu perkembangan sekolah di dua desa ini dapat membantu. Siswa ini nantinya juga dapat secara. Siswa ini nantinya juga dapat datang secara bergantian. Tetapi dia mengatakan pihaknya harus beradaptasi dengan pendidikan apa yang cocok di Lembah Sibayak ini.

Apapun yang menjadi angan-angan dan impian para siswa di kota yang sempat melihat kondisi di dua desa Lembah Sibayak, serta harapan dari warga desa terhadap orang kota. Biarlah waktu yang menjawab bagaimana perkembangan mereka ke depannya.

Asiknya Punya Ortu Angkat

"Wah asiknya punya ayah dan ibu angkat," Itulah yang terucap dari bibir Frans ketika ditanyai MedanBisnis sepulang dari studi Ekologi selama 2 hari 3 malam di lembah Gunung Sibayak, tepatnya di desa Doulu dan Desa Semangat Gunung pekan lalu

Cowok dengan nama lengkap Frans. Wiryo Hutomo ini mengaku senang mendapatkan kesempatan berharga mengikuti studi praktek lapangan ke alam Sibayak. Karena, menurutnya belajar di kelas tidak akan lengkap jika tidak diimbangi dengan praktek.

"Pada saat praktik, kita bisa mengetahui langsung situasi di lokasi tersebut. Jika ditanya kembali, kita juga akan dapat menjawabnya dengan cepat karena kita langsung menyaksikannya," katanya.

Anak ke 2 dari 3 bersaudara psangan Hermanto Wong dan Nana ini mengaku mendapat banyak pengalaman selama berada di sana.Hal yang cukup berkesan adalah memiliki Ayah dan Ibu angkatyang sangat perhatian.

"Jika sudah jam 9 malam, kita tidak diizinka keluar rumah lagi. Setiap pagi dibangunin, jika kekurangan apa dicarikan," cerita Frans.

Menurutnya, suasana kekeluargaan di desa tersebut sangat besar. Terlihat dari Ayah, Ibu dan anak yang setiap malam selalu makan bersama serta ngobrol sejenak. Tidak seperti di kota kebanyakan sudah sangat jarang dapat ditemui hal seperti itu.

Meskipun terasa capek, siswa yang duduk di kelas XI is 3 SMA Methodist 2 Jalan MH Thamrin mengaku perasaan tersebut hilang karena hangatnya rasa kekeluargaan selama berada disana. Meskipun baru mengenal, mereka sudah dianggap seperti keluarga sendiri.

Ditanya mengenai harapannya, Frans berharap kegiatan seperti ini dapat terus dilakukan. Karena kegiatan ini akan menambah sisi positif dari pelajaran yang selama ini jarang atau bahkan tidak pernah dihadapkan di sekolah.

Selain itu, Cowok Libra ini berharap bahwa setiap masyarakat yang hendak mengambil hasil hutan hendaknya tetap menjaga kelestarian alam di sana. Jangan sampai menebang hutan serta merampas kekayaan hutan hingga tak bersisa.

Oya, ternyata, cowok yang sehari-harinya hobby berenang dan traveling ini telah mempunyai banyak pengalaman. Beberapa diantaranya studi bencana ke Besitang saat banjir awal lalu, arung jeram, hingga latihan pertolongan pertama pada kecelakaan di bawah naungan Johaniter.

(Sumber: Harian Medan Bisnis, Minggu, 26 Agustus 2007)


Topic: