SoI File Ikutkan "Jaring Halus" ke Festival Dokumenter Nasional

Dapat dipastikan film documenter berjudul "Pantang di Jaring Halus" (PdJH) produksi SoI File Documentary (SFd) diikutsertakan mewakili Sumatera Utara ke Festival Film Dokumenter Nasioanal (FFDN) di Komunitas Film Independen (Konfiden) Jakarta Nopember mendatang. Film PdJH merupakan film documenter unggulan SFd dari sekitar delapan film documenter yang dibuat oleh krunya sepanjang tahun 2007.

Menurut Produser SFd Renta Morina Evita Nababan di basecamp-nya Jalan Aman I No 20 Medan. Keikutsertaan PdJH di ajang Festival Film Dokumenter Nasional (FFDN) merupakan bentuk partisipasi para penggiat film documenter di Sumatera Utara, khususnya Medan untuk kembali menyembuhkan nafas perfilman di Indonesia yang semakin di titik koma (terpuruk,red).

"Paling tidak dengan menyertakan PdJH kita bisa mengekspresikan diri di komunitas film maker luar dan sekaligus membuktikan bahwa anak-anak Medan juga punya potensi untuk memproduksi film-film documenter yang cerdas dan berkualitas," ujar Renta yang juga mantan aktivis Lingkungan di Walhi Sumut.

Sementara itu, Sutradara film PdJH Onny Kresnawan menjelaskan, keikutsertaannya dalam arena festival film documenter bergengsi di Jakarta tersebut merupakan bentuk lain untuk mengkomunikasikan khasanah budaya daerah Sumatera Utara yang beragam dan sekaligus perlu pelestariannya. Dengan demikian di PdJH, Onny Kresnawan yang juga mantan news cameramen salah satu TV swasta nasional sengaja menjadikan Pulau Jaring Halus di Kabupaten Langkat Sumatera Utara menjadi setting filmnya.

Sang sutradara yang juga di tahun 2004 masuk nominasi di Festival Film Dokumenter (FFD) Yogyakarta dengan judul "Goresan Anak Pemulung" dalam PdJH memvisualisasikan keterpautan nilai-nilai Islami dan budaya Melayu serta mistis pada masyarakat Jaring Halus dalam melakukan upacara persembahan kepada penghuni laut yang tidak Nampak secara kasat mata.

Menariknya, papar Onny, dalam upacara persembahan jamu laut yang dilaksanakan tiga tahun sekali tersebut, sarat dengan nilai-nilai perlindungan terhadap Lingkungan hidup. Praktis, dalam satu hari satu malam masyarakat Jaring Halus memberlakukan berbagai pantangan sebagai wujud penghargaan kepada alam sekitarnya.

Film PdJH yang dikerjakan dalam tempo tiga minggu dan besumber dana dari kocek kru SFd sendiri tersebut juga semakin apik ditonton manakala sang juru cameramen menangkap fenomena alam saat hujan petir malam di Pulau Jaring Halus. "Momen ini makin menguatkan karakter film documenter yang membutuhkan factual dan aktualitasnya, tanpa trik dan sangat natural toh, PdJH sedikit berbau mistik. Jadi, sambaran hujan petir semakin mengesankan suasan angker," jelas Onny Kresnawan yang juga dalam film PdJH bertindak sekaligus sebagai cameramen dan editor.

Sisi lain dalam berkarya dan berkompetisi di film documenter, menurut Onny Kresnawan yang juga baru meluncurkan film documenter "Cakap-cakap Orang Sumut" yakni SFd ingin mewujudkan mimpi bahwa film documenter juga merupakan media public alternative sebagai lembaga social control yang banyak dipercaya, di samping media cetak dan elektronik lainnya. (rel)
Sumber: Harian Portibi

Topic: