SUMUT Kirim Satu Film Ke Festival Dokumenter Nasional

Oleh: Arnold Sianturi

[MEDAN] Sineas Sumatera Utara mengirim satu film untuk Festival Film Dokumenter Nasional di Jakarta. Film berjudul Pantang di Jaring Halus (PdJH) produksi SoI File Documentary (SFd) itu menjadi wakil Sumatera Utara (Sumut) dalam festival di Komunitas Film Independen (Konfiden) yang berlangsung di Jakarta, Nopember 2007.

Produser SFd, Renta Morina Evita Nababan menuturkan, Pantang di Jaring Halus merupakan film documenter unggulan dari delapan film documenter yang diproduksi SoI File Team sepanjang tahun 2007. Filem documenter lain yang diproduksi SFd adalah Kinter (menceritakan kejadian bencana alam di Langkat), Anjing Hitam di Sipokomil (kisah perambangan biji timah hitam di Dairi). Lembah Surga Dua Desa (cerita tentang wisata ekologi), Cair (kisah tentang lingkungan hidup).

Selain itu, Menapak Tahura Menjemput Asa (cerita tentang konservasi alam), Cakap-cakap Orang Sumut Versi Independen (sosial politik) dan Alam Menangis Warga Menggugat, yang berkisah tentang banjir yang melanda Lembah Sibayak.

"Keikutsertaan ini merupakan bentuk partisipasi untuk mewakili Sumut, sekaligus menunjukkan kreativitas, bahwa anak Medan juga berkarya, berpartisipasi serta kreatif dalam membangun film documenter dan membangkitkan semangat perfilman Indonesia," ujar Renta.

Dikatakan, film documenter yang disertakan pada Festival Film Dokumenter itu tidak kalah menarik dengan hasil karya dari daerah di luar Medan. SFd sengaja berpartisipasi dalam ajang film documenter karena film documenter semakin terpuruk. Oleh karena itu, katanya SFd ingin melestarikan film documenter.

Sutradara PdJH, Onny Kresnawan menambahkan, keikutsertaan SFd untuk menunjukkan khasanah budaya di Sumut. Keanekaragaman di daerah ini antara lain terdapat di Pulau Jaring Halus Kabupaten Langkat.

Pantang di Jaring Halus mengisahkan nilai-nilai mistis di pulau itu yang berpadu dengan nilai-nilai Islami dan budaya Melayu. Perpaduan ini diwujudkan dalam upacara persembahan kepada penghuni laut. Upacara semacam ini masih berlangsung di tengah masyarakat setempat sekalipun mereka tidak pernah melihat penghuni laut itu, tetapi bisa merasakannya.

Persembahan tersebut sudah menjadi tradisi, dan dilakukan secara turun temurun sejak nenek moyang. Upacara itu sebagai wujud terima kasih masyarakat di Pulau Jaring Halus karena selam ini terhindar dari bencana. Selain itu, upacara yang dilakukan sekali dalam tiga tahun ini merupakan ungkapan terima kasih masyarakat atas rezeki dari roh penghuni laut.

Upacara berlangsung sehari penuh, dan selama upacara berlangsung tidak ada masyarakat yang beraktivitas. Nelayan tidak bisa ke laut, dan warga tidak boleh mengambil air laut, apalagi berteriak. "Upacara ini sekaligus untuk menyelamatkan alam dari tangan-tangan jahil," ujar Onny.

Untuk pengambilan gambar film documenter ini, Onny yang juga mantan reporter dan juru kamera salah satu televise nasional ini secara kebetulan merekam gambar petir saat upacara berlangsung. Momen tersebut dimanfaatkan untuk memperlihatkan fakta maupun aktualitas, tanpa trik maupun kekuatan supranatural.

"Memang ada sedikit kisah berbau mistis, gambar petir yang disertai hujan deras seakan memperlihatkan suasana angker," kata Onny yang juga editor film dokumenter tersebut. (AHS/N-4)

Sumber: Suara Pembaharuan, 8 Oktober 2007 (http://www.suarapembaruan.com/News/2007/10/08/Hiburan/hib02.htm)

Topic: