Karya Sineas Sumut Juara Nasional

Medan – Persoalan minimnya akses air bersih khususnya bagi kalangan masyarakat berekonomi lemah, berdampak pada masyarakat yang harus mengonsumsi air sungai untuk pemenuhan kebutuhan masak, cuci dan kakus (MCK). Bahkan keterbatasan akses air ini telah berdampak pada terus berjatuhannya korban jiwa.

Paling tidak, demikian gambaran yang coba ditampilkan oleh SoI File Dokumentary (SFd) dalam film dokumenter yang diberi Judul Badai ‘Berharap Air di Atas Air’. Film ini berhasil menduduki posisi ketiga dalam Kompetisi Film Dokumenter dengan tema Air dan Manusia yang digelar oleh Forum Komunikasi Pengelolaan Air Minum Indonesia (Forkami) di Jakarta. Menyisihkan dua sineas asal Sumatera Utara lainnya yang juga ikut berlaga dalam kompetisi ini.

Dari hasil penilaian juri, tiga film yang berhasil memenangkan kompetisi ini terdiri dari Punggung Berkeringat di Tanah Retak (Ngobrok dengan Mbok Giyem), karya Toha Nuson Haji dari Mata Bunga Institut asal Solo, Jawa Tengah. Film ini berhasil meraih posisi pertama. Sementara di posisi kedua, berhasil diraih Bowo Leksono dan Cinema Lovers Community dengan karyanya yang diberi judul Sang Pawang Air.

Terpilihanya ketiga pemenang yang Sabtu (29/3) disampaikan di Gedung Centre Culture Francai di Jalan Salemba Raya, Jakarta Pusat tersebut, merupakan hasil seleksi dari 42 peserta yang terlibat. Sedangkan pada babak selanjutnya terdapat 11 finalis yang kembali disaring hingga terpilihnya enam nominator. Pengumuman para pemenang dalam kompetisi hasil kerjasama Forkami, USAID-ESP, Jaringan Air dan Sanitasi, Palyja dan TPJ tersebut berlangsung sejak pukul 19.30 WIB hingga 21.30 WIB.

Menanggapi keberhasilan SoI File documentary (SFd), Direktur Sources of Indonesia (SoI) Renta Morina Nababan mengatakan dalam film dokumenternya, SFd hanya berusaha meyajikan fakta betapa minimnya akses air bersih yang selama ini diterima oleh masyarakat Sumatera Utara. Khusunya masyarakat yang bermukim di Dusun Pematang Sentang Desa Pantai Cermin, Tanjung Pura Kabupaten Langkat.

Kondisi inilah yang kemudian memaksa lebih dari 7 ratus kepala keluarga yang bermukim di Desa Pantai Cermin untuk memanfaatkan air Sungai Batang Serangan sebagai satu-satunya sumber air untuk kebutuhan masyarakat sehari-hari, di samping air hujan yang mereka tampung. Sementara kondisi air sungai sudah tercemar limbah industri yang berada di sepanjang aliran sungai tersebut.

“Dari film Badai juga terungkap kalau selama ini tingkat penderita penyakit berbasis lingkungan seperti hal diare, menempati posisi tertinggi di daerah tersebut. Bahkan jenis penyakit ini telah berulangkali mengakibatkan kematian yang umumnya melanda balita,” ungkap Renta di Posko SoI di Jalan Aman I No 20 Teladan Medan.

Renta menambahkan, fakta kematian balita akibat minimnya akses air bersih ini coba digambarkan dalam cerita yang dikisahkan langsung oleh Wagiyem, bagaimana Bayu, cucunya yang baru berusia 25 hari harus meninggal, setelah pada kulitnya ditemukan bentol-bentol merah yang diduga kuat timbul akibat minimnya kualitas air yang dipergunakan masyarakat. Sedangkan pasangan orang tua Bayu, Khalif dan Ayu Lestari hingga proses produksi film ini dikerjakan belum mampu berkata-kata. Kalangan keluarga hanya dapat menyesali kematian putera sulung mereka tersebut.

Selain itu, film Badai ‘Berharap Air di Atas Air’ karya produser Onny Kresnawan ini juga berhasil meraih hadiah Rp 10 juta. Badai merupakan satu dari sejumlah film documenter hasil produksi SoI File documentary. Film lain yang juga sempat berlaga dalam kompetisi film dokumenter nasional yaitu Pantang di Jaring Halus. Film ini sempat menduduki posisi 15 besar dari seluruh peserta yang terlibat.

Untuk konfirmasi:
Panitia :  Atmo (081327062805)
Produser SFd  :  Onny Kresnawan (081375739518)

Topic: