Soeharto (1)

Karya Darma Lubis
 
“Dia mati!”
Gadis kecil itu berteriak
Sontak aku bangkit
Lalu bercermin pada layar kaca

Kebahagiaan menyergap
Kebencian menyeruak

Kematian demi kematian adalah nyanyian pagi dan malam
Orang-orang berparas militer menari
Di atas panggung boneka kebanggaan politik dalam negeri
Dan Wiji Thukul tak kembali

    Sayap-sayap elang retak, patah
    Elang pergi
    Petani rugi

Pestisida dan pupuk merusak negeri
Utang luar negeri yang tak terperih
Demokrasi mati!

    ”Ayah, besok kita makan pakai tahu, tempe goreng dan sambal kecap, ya!”
    Ah, gadis kecil itu membuatku gelisah

Tapi dia sudah mati
Seketika aku rindu senyumnya
Menyapu seluruh gelisah anak dan istriku

    Haru menusuk
    Gugur Bunga, gugur benci

”Ayah, uang sekolahku sudah dua bulan belum dibayar!”
Ahhhh ... apa lagi ini?

    Aku merasa dikhianati
    Reformasi bukan milik kami
    Reformasi milik orang yang berdasi
    Bukan milik para pengendara metro mini

 
Para buruh
Guru
Petani
Pegawai negeri
”Ayah, ibu pergi?”
”Ya, katanya jadi TKI.”

 

    Karena,
    negeri ini bukan milik kami
    air ini milik penguasa negeri
    udara ini milik penguasa birokrasi
    api  ini milik pemegang pistol dan bedil
    mimpi ini milik para politisi
    bahkan mati ini bukan milik kami

                                                                           

Medan, 28 Januari 2008

Topic: