Onny Kresnawan: Alternatif ketika Jurnalis Tidak Lagi di Media

Oleh Khairiah Lubis

Jurnalis televisi, karena kesehariannya yang bersama kamera, mempunyai kesempatan lebih banyak untuk menjadi seorang film maker. Inilah yang dilakoni Onny Kresnawan. Menjadi seorang film maker untuk jenis dokumenter yang diperlukan sebagai media campaign LSM. Seperti SoI File Documentary yang didirikannya bersama delapan orang temannya, menjadi media campaign untuk NGO Sources of Indonesia (SoI).
Sejak didirikannya di tahun 2006, SoI File Documentary (SFD) sudah menghasilkan beberapa karya dokumenter seperti Kinter yang menceritakan tentagn bencana banjir di Langkat. Alam Menangis Warga Menggugat yang mengambil permasalahan Desa Doulu, Semangat Gunung. Cair yang bercerita tentang konservasi alam di Tahura,  Menapak Jejak Tahura, Menjemput Asa, dan beberapa video report lainnya.

Menurut dia, di tengah perkembangan teknologi saat ini, muncul kebutuhan-kebutuhan baru orang terhadap dokumentasi. “Sekarang orang pingin segala hal yang menyangkut hidupnya didokumentasikan. Ini bisa jadi peluang,” kata Onny.

Peristiwa-peristiwa besar yang terjadi di daerah, menurut Onny, juga perlu didokumentasikan dengan baik, biar bisa jadi bukti sejarah dan diceriktan kepada generasi selanjutnya suatu waktu nanti. “Harusnya pemerintah punya satu bagian yang khusus melakukan dokumentasi terhadap peristiwa besar yang terjadi didaerah ini. Jadi kita punya arsip,” kata alumnus STIKP ini.

Ini jugalah yang akan mereka kerjakan di SFD. Onny menjelaskan, SFD ingin menjadi pusata dokumentasi seluruh peristiwa yang ada di Sumatera Utara, sehingga ketika orang butuh untuk mengetahui bagaimana terjadinya suatu peristiwa, maka mereka bisa mencari di SFD.

Onny punya ciri khusus dalam film yang dibuatnya. Ia menyukai dokumen yang natural. Sehingga filmnya tidak ia buat dalam bentuk narasi. Ini bisa terlihat dalam film dokumenternya Pantang yang menceritakan tentang budaya masyarakat di Jaring Halus, Langkat yang masih mempercayai tradisi leluhur. Barangkali karena naturalnya itu pula film yang ia buat pertengahan 2007 ini lolos Festival Film Pendek Konfiden 2007 untuk diputar di Taman Ismail Marzuki pada tanggal 20 Nopember mendatang.

Membuat film dokumenter yang natural-tanpa narasi, tentu mempunyai tingkat kesulita yang lebih tinggi. Gambar yang diambil harus benar-benar bisa berbicara tanpa bantuan narasinya. Tapi di sinilah letak keasyikannya menurut Onny. Dia sangat menyenangi dunia natural dokumenternya itu saat ini.

“Saya akan terus berkarya. Film maker, khususnya dokumenter mempunyai prospek yang cerah di masa depan nanti,” ucap Onny.

Topic: