Film Maker: Action..!

Oleh: Khairiah Lubis & Judika

Dunia cinema saat ini begitu gembar-gembornya unjuk gigi di masyarakat. Ketika produksi film semakin meningkat, maka kebutuhan terhadap para ahli pembuat film ini pun tumbuh. Peluang menarik di masa depan.

Onny Kresnawan barangkali tidak pernah terpikir kalau perpisahannya dengan TPI beberapa tahun lalu akan membawa dia menggeluti dunia film dokumenter. Dari yang tidak tahu-menahu dan tidak mau tahu soal editing, kini dia jadi seorang yang ahli. Bahkan Onny punya peluang menjadi lebih dikenal dan diperhitungkan karena filmnya, Pantang, yang mengangkat budaya di Desa jaring Halus, Langkat, telah lolos Festival Film pendek Konfiden 2007 dan mendapat kesempatan diputar di Taman Ismail Marzuki, 20 Nopember mendatang.

Hidup dan waktu memang sebuah misteri. Ketika seseorang terperosok ke dalam lumpur masalah, bukan berarti itu adalah sebuah musibah. Bisa jadi itu adalah jalan untuk menuju hidup yang lebih baik. Begitulah yang terjadi dengan Onny yang kini sibuk dengan kegiatan syuting membuat film-film berdasarkan kejadian sebenarnya. Punya keahlian sebagai sebagai film maker bisa membuatnya tetap hidup di tengah ketidakpastian status kerjanya yang ia perjuangkan. Film maker memberikan peluang.
“Punya keahlian membuat film bisa menjadikan kita mandiri,” kata Onny kepada Medan Bisnis pekan lalu.  Film maker adalah profesi yang cukup prospektif, punya masa depan yang baik. Selain itu, menjadi seorang film maker bagi dia adalah sebuah keasyikan. Bisa mengekspresikan keinginan hati.

Film maker terdiri dari banyak ahli. Sebut saja sutradara, script writer atau penulis naskah, dan produser, yang masing-masing punya kriteria dan syarat-syarat tertentu agar bisa menghasilkan karya yang bersaing di tengah kompetisi. Sutradara perlu ilmu menejemen yang dapat mengatur dan mengorganisir orang-orang yang menjadi pemainnya. Ia juga harus peka dan jeli terhadap teknik pengambilan gambar dengan memperhatikan nilai-nilai estetika dan artistik.

Penulis skenario juga punya peranan penting. Cukup banyak film yang punya sutradara maupun pemain hebat, tapi karena enggak didukung oleh skenario yang menarik, orang jadi tidak suka.

Bukan hanya di film Indonesia saja ini terjadi. Di film luar juga. Musalnya film The Mexican yang meskipun dimainkan oleh dua bintang besar yaitu Brad Pitt dan Julia Robert, tidak sukses karena masyarakat tidak tertarik dengan jalan cerita yang ditulis penulis naskahnya.

Kenapa skenario itu jadi penting ya? Menurut Jurjur Prananto, peulis skenario Ada Apa Dengan Cinta (AADC), skenario itu punya nyawa atau blue print dari sebuah film. Memang semua aspek lain dalam film ikut pengaruh. Tapi ya, setelah gagasan, skenario memang jadi unsur penting dalam sebuah film.

Skenario itu senjata perang bagi penulis naskah. Skenario yang bagus itu skenario yang bisa memberikan gambaran dengan jelas pada orang yang membaca, seperti apa jalan cerita filmnya.

Selai ide, skenario yang menarik memiliki beberapa kejutan dan tidak mudah ditebak jalan ceritanya. Bagi Suhendra, Direktur Kensington, intitusi pendidikan yang mempunyai program belajar film maker tidak boleh dianggap sebelah mata. Karena hal tersulit dalam pembuatan film adalah pada film-maker itu sendiri.

“Banyak subjek yang hendak menjadi pelakon, namun begitu minim sekali yang ingin menerjunkan diri mereka, baik sutradara sekalipu,” papar Hendra siang itu kepada MedanBisnis sehubungan dengan kendala yang kerap dijumpai dalam pembuatan film, khususnya untuk Kota Medan sendiri.

Perkembangan dunia film saat ini ditambah perkembangan kebutuhan masyarakat akan sebuah dokumentasi sebuah peristiwa membuat profesi film maker saat ini kian dibutuhkan. Film fiksi atau komersial dibutuhkan oleh pelaku-pelaku industri televisi. Sedangkan film non komersil seperti film dokumenter banyak diperlukan oleh LSM, kampus, perusahaan, bahkan seorang pribadi.

Film dokumenter Indoensia tela berkembang pesat dalam dasawarsa terakhir ini. Pada era orde baru, film dokumenter dipahami secara sempit sebagai film sejarah, film flora dan fauna dan terutama film penyuluhan dan propaganda pemerintahan orde baru, yang mengisahkan melulu kesuksesan program-program pemerintah dan penanaman kebencian terhadap mereka yang tidak setuju dengan pemerintah. Mulai akhir 1990-an film dokumenter bergerak secara dinamis, antara lain mewujud dalam bentuk film advokasi sosial politik, film seni dan eksperimental, film perjalanan dan film komunitas, dan terutama sebagai media alternatif di bidang seni audio-visual bagi anak muda.

Film dokumenter mewujud menjadi satu genre seni audio visual yang memiliki sifat demokratis sekaligus personal.

Dengan ruang kreativitas yang terbuka luas, yang tidak terbatas sebagai produk industri media dan hiburan, film dokumenter memberi kesempatan kepada semua orang untuk menampilkan diri, baik sebagi kreator film memunculkan karya yang unik, orisinil dan khas, yang tidak terkerangkeng oleh stereotype karya-karya film dari dunia industri hiburan. Dengan karakteristik yang demikian itu, film dokumenter menjadi karya yang bersifat alternatif, baik dari segi ideologi, isi, maupun bentuk, sehingga mampu menarik minat masyarakat umum dan terutama anak muda.

(Sumber: Medan Bisnis, Minggu, 18 Nopember 2007)

Topic: